Dayeuhkolot dan Baleendah Kembali Terendam Banjir

Bandung - Akibat diguyur hujan deras tiga hari belakangan ini, banjir yang cukup luas merendam berbagai daerah di sekitar Kec. Dayeuhkolot dan Kec. Baleendah. Sehingga, ratusan rumah terendam, bahkan ketinggian air ada yang mencapai 2 meter.
Berdasarkan pemantauan "GM" di lokasi banjir, Selasa (10/1), banjir kali ini lebih besar dibandingkan beberapa minggu belakangan ini. Karena curah hujan yang turun kali ini cukup besar dan berlangsung lama.
Beberapa warga terpaksa mengamankan barang-barangnya ke tempat yang lebih aman. Namun banyak pula peralatan rumah tangga warga yang tidak sempat terbawa sehingga terendam air. Barang-barang yang bisa diselamatkan warga diamankan dengan dibawa di atas ban karet, perahu ataupun ember yang ukurannya cukup besar.
Beberapa daerah yang terkena banjir cukup parah adalah Kampung Palasari RW 01 Kel. Pasawahan, Kampung Citepus RW 09 Desa Cangkuang Wetan, Kampung Bojongasih, Kec. Dayeuhkolot serta Kampung Parunghalang, Kel. Andir dan Kampung Jembatan, Kel. Baleendah, Kec. Baleendah.
Bersamaan dengan datangnya banjir tersebut, beberapa sungai yang ada di Kec. Dayeuhkolot dipenuhi tumpukan sampah sehingga menyumbat arus air. Seperti halnya yang terjadi di Sungai Citepus, tumpukan sampah yang ada di sana menyumbat arus air. Kebanyakan sampah tersebut berupa plastik, kayu, daun-daun, busa (styrofoam) dan sampah lainnya.
Menurut Yadi (47), warga Kampung Palasari RW 01 Kel. Pasawahan, banjir menyergap rumahnya sejak tiga hari lalu. Namun banjir pada Senin (9/1) malam merupakan yang terbesar dalam beberapa minggu terakhir ini.
"Banjir yang melanda wilayah kami belum juga surut airnya, sudah kembali diguyur hujan lebat dan cukup lama. Meski di wilayah Dayeuhkolot hujan tidak begitu besar, namun air kiriman dari wilayah lain itu kembali mengakibatkan banjir di daerah kami," tutur Yadi yang bekerja di salah satu pabrik di kawasan Dayeuhkolot.
Yadi pun mengkhawatirkan bila air tidak kunjung surut akan timbul berbagai macam penyakit yang menyerang warga. Sebab, air yang menggenang tersebut bercampur dengan berbagai macam kotoran, sampah, dan limbah.
Hal yang sama juga dikatakan Ny. Erna (37), warga Kampung Jembatan, Kel. Baleendah, setiap kali datang musim penghujan pasti daerahnya dilanda banjir. "Letak rumah warga lebih rendah dibandingkan Jalan Raya Laswi Baleendah. Lagipula rumah kami tidak begitu jauh lokasinya dengan aliran Sungai Citarum. Begitu Sungai Citarum meluap, airnya tumpah ke daerah kami," papar Ny. Erna.
Salat Id
Akibat banjir yang menyergap daerah Kampung Citepus RW 09 Desa Cangkuang, warga sekitar terpaksa melakukan salat Id dan melakukan penyembelihan hewan kurban di halaman sebuah pesantren. Karena halaman Masjid Al Ikhlas yang biasa digunakan salat terendam banjir hingga mencapai ketinggian 1 meter.
"Warga terpaksa salat Id dan menyembelih hewan kurban di halaman pesantren. Sebab hingga Selasa (10/1) siang, air di wilayah kami ini tidak kunjung surut," kata Ketua RW 09, Lili Suhaeli. ( B.33 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar